A lil' pepper in paper

Nasib Sang Wayang

Posted in Tanganku berkarya by ayaslarasati on January 21, 2010

Bosan

Bosan saat menjadi manusia

Ingin rasanya waktu berputar cepat

Berhenti di saat bintang-bintang berjalan dengan matahari

Dan bulan pun bersembunyi

Lalu berubahlah ia

Wayang, Sang Perantara

“Wahai adikku, Bumi, apa saja yang telah kau korbankan hari ini pada mereka?” tanyanya.

“Demi hidup mereka, aku beri segala rasa air yang aku punya! Kulit tanahku rela mereka singkirkan demi beton-beton busuk mereka! Manisnya udaraku dengan beraninya mereka nodai dengan gumpalan-gumpalan udara abu! Kotor! Rusak!” balas sang Bumi berapi.

“Dan kau, sahabatku, wahai Langit, apa yang kau simak dari atas sana terhadap mereka?”

“Telah kulihat bahwa tak ada hentinya bejat mereka. kerakusan mengalir di mereka, keegoisan merangkul mereka, dan birahi merajai mereka. Apa itu yang disebut makhluk sempurna, Wayang? Sedetik pun tak rela aku menjadi mereka, tidak.” Ujar sang Langit.

“Tak satu pun tahu, Langit. Haluskanlah hati kalian. Sang Pencipta mengerti dan akan menghujam mereka dengan balasan. Mereka tak akan tahu dan biarkan saja sehingga mereka merasakan apa-apa yang keji dan mematikan. Oh, Wayang ayahku dan manusia ibuku. Wujudku manusia, jiwaku wayang. Bagaimana nasibku nanti?”

Nasib Sang Wayang,

Ayas

12 Januari 2010, 00.51. di kamar, sunyi. Selimut menutupku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: